next FF “SUMMER MEMORIES” casted: Park Jungsoo/Leeteuk and Kim Taeyeon (TaeTeuk)

Untitled   ff_副本s_副本2

Advertisements

Fanfiction “MY BOYFRIEND IS A GHOST” yoonhae [oneshot]

Imagefictio

 

Authorized by: Eno ShaWol

Rating: T

Genre: Romance?

Cast:

-Im Yoon Ah SNSD

-Lee Dong Hae Super Junior

-Beberapa member SNSD

-Beberapa member Super Junior

 

Ps: Ide cerita diambil dari sebuah komik dengan judul “Want to Touch You”. Dan kali ini main cast-nya bukan saya suweer deh. ==v

 

 

 

 

 

 

 

 

————————-Happy Reading———————–

 

 

 

^^^^My Boyfriend is A Ghost ^^^^

 

Namaku Yoona, Im Yoon Ah. Sejak Sekolah dasar aku selalu belajar di sekolah khusus yeoja. Tapi, setengah tahun yang lalu Appa-ku dimutasi dan aku pindah ke sekolah ini, Sekolah Menengah Atas umum, dimana yeoja dan namja menjadi satu. NAMJA, aku belum terbiasa dengan makhluk yang bernama namja. Mungkin jika namja itu masih kecil, atau yang telah berumur, aku masih bisa menerimanya. Tapi tidak untuk namja sebaya. Aku tak tahu kenapa, yang aku tahu sifatku ini benar-benar membuat orang susah. Tapi bagaimana lagi?

 

Ada tempat di sekolah ini yang membuatku nyaman, dimana tak ada satupun orang yang aku lihat batang hidungnya. Atap sekolah. Yup, atap sekolah adalah tempat yang sering aku datangi. Di sini aku tak perlu melihat namja.

 

Seperti hari-hari biasanya, dijam istirahat ini aku pergi ke atap sekolah. Berdiri memandangi kota Seoul di musim gugur. Tapi rupanya, hari ini tak seperti hari-hari biasanya.

 

“Aku selalu penasaran, melihatmu sendiri di atap sekolah” terdengar suara namja secara tiba-tiba. Aku mencari-cari asal suara itu. Aku menoleh ke belakang, lalu kembali menghadap ke depan. Betapa kagetnya aku, seorang namja ada tepat di hadapanku, melayang tenang tanpa menginjakan kakinya di lantai atap.

 

“AAAAAAAaaaaaaaaaaaghhhhhh!!!” aku berteriak kencang. Dengan cepat pula aku berlari, berusaha meninggalkan tempat ini. Membuka pintu atap, menuruni tangga, dan kembali ke kelas.

 

BRAKK! Ku buka pintu kelas dengan nafas tersengal-sengal.

 

“Yoona-ya! Waeyo?” Tanya Yuri padaku.

 

“Ta…tadi.. Ada namja di…di atap..” jawabku masih tersengal-sengal mencoba mngatur nafas.

 

“Yak, kau ini. Ini kan sekolah campuran, jelas saja ada namja,” timpal Yesung yang sedang duduk malas di bangkunya, “bukan sekolah yeoja seperti sekolahmu dulu kan?”

 

“Tapi dengar dulu ceritaku..” aku coba menceritakan kejadian yang tadi aku alami. Bertemu namja yang kakinya tak menapaki lantai atap.

 

“Maksudmu, hantu yang sering muncul di atap sekolah ya?” pertanyaan Yesung kali ini membua aku shock. Hantu? Apa benar yang tadi itu hantu?

 

“Ye, ada gosip seperti itu lho. Yoona kan anak baru, jadi belum tahu.” Ucap Yuri meyakinkan.

 

“Yoona, mukamu pucat. Kenapa?” tanya Sungmin yang baru masuk, sambil menyentuh pundakku.

 

“HEI!!! MAU APA KAU??” ucapku sepontan ke arah Sungmin. Satu lagi, aku tak bisa menyentuh dan disentuh oleh namja sebayaku. Payah.

 

“……” Sungmin kelihatan sangat kaget. “enggak, aku enggak mau apa-apa kok.” sepertinya dia ketakutan akan reaksiku tadi. Celaka. Cepat-cepat Sungmin keluar dari kelas.

 

“MIANHAE!!!” teriakku berharap Sungmin yang telah berjalan meninggalkan kami mendengarnya.

 

“Yoona-ya! Kau ini harus terbiasa dengan namja dong.” Yuri berusaha menasihatiku. Nasihat yang begitu berat Yuri.

 

Sejak kejadian yang barusan itu, aku tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Pelajaran matematika favoritku pun tak bisa kucerna sedikitpun. Ayangku melayang-layang entah ke mana.

 

 

^^^^My Boyfriend is A Ghost ^^^^

– 2nd days –

*break time*

 

Keesokan harinya, aku beranikan diri untuk kembali mengunjungi atap. Kususuri lorong-lorong kelas yang ramai akan murid-murid yang asyik berceloteh. Hingga aku berada tepat di depan jajaran anak tangga yang akan membawaku ke atap. Di sini sepi sekali. Kuterus kumpulkan nyali untuk melangkahkan kaki ke anak-anak tangga itu. Sampai di atas ku buka pintu kaca yang membatasi bangunan dalam gedung dan luar. Hembusan lembut angin menyambut kehadiranku, kembali aku melihat kota Seoul dari atas sini, sambil berpikir keras apakah yang aku lihat kemarin adalah hantu betulan? Aku pasti stress berikir yang bukan-bukan.

 

“Mianhae!” suara seorang namja terdengar sangat dekat, ternyata namja yang kemarin kembali datang, sekarang dia di sebelahku masih melayang-layang. “Mianhae, kemarin aku membuatmu kaget.” ini kedua kalinya aku bertemu dengannya, tapi tetap saja…

 

“AAAAAAAAaaaaaahhhhh” aku teriak lagi, berlari berusaha pergi. Apa yang aku lihat tadi bukan mimpi. Dia terbang, tembus pandang, berarti.. Gubrakkk!! Aku terjatuh sebelum mencapai pintu.

 

“Kau baik-baik saja?” tanya hantu namja itu. Kenapa jadi begini??? Air mataku keluar, aku menangis. Tangisan yang bukan karena terjatuh. “Eh?! Mianhae a..aku..”

 

“huweeee” tangisanku semakin keras saat dia mencoba mendekat.

 

“Mianhaeyo..” dia terus meminta maaf. Dia terus mendekat, dan semakin dekat denganku. “Kau tak apa-apa?”

 

Kumohon, jangan mendekat, jangan sentuh aku! Aku takut, tapi tak bisa bergerak. Tangannya mendekat mencoba menyentuhku. Dengan cepat aku menutup mataku.

 

“Lho? Kok bisa?” tanya hantu itu heran. Rupanya tangannya tak dapat menyentuhku. Jari-jarinya tembus begitu saja saat mencoba meraih wajahku.

 

“Kau ini kan hantu.” seruku mencoba menjelaskan. Apa dia tidak tahu kalo dirinya itu hantu?

 

“Ya ampuun!! Aku lupa,” gubrakk, hantu macam apa dia ini? Kenapa bisa-bisanya lupa?

 

“Syukurlah kau berhenti menangis” katanya, saat melihat tak ada air mata yang keluar dari mataku lagi. Senyum tipis nan manis terlukis diwajahnya.

 

Grrrrrr..grrr.. Telepon genggamku tiba-tiba bergetar. Ternyata dari Yuri yang sedang mencari dimana aku berada sedari tadi.

 

“Hei, sudah ya aku harus kembali ke kelas” kataku pada hantu namja itu sambil mencoba bangkit dari lantai. Kemudian aku berbalik arah, dan berjalan menuju pintu saat tiba-tiba hantu itu menghentikanku.

 

“Tunggu! Namaku Donghae, Lee Donghae. Siapa namamu?!” ucapnya sedikit berteriak.

 

“A..aku?” balasku bertanya.

 

“Nde” ujarnya

 

“Aku Im Yoon-Ah, panggil saja Yoona!” jawabku kemudian.

 

“Yoona-ya, aku akan selalu di sini. Aku akan sangat senang bila dapat bertemu denganmu lagi.”

 

“Nde sampai nanti, Lee Dong Hae.” aku kembali berbalik, dan meneruskan jalanku yang sempat terhenti menuju kelas.

 

Apa yang aku lakukan? Berbicara dengan hantu, sampai kenalan segala lagi? Huaa, siapa dia sebenarnya??

 

 

^^^^My Boyfriend is A Ghost ^^^^

3th day-

*breaktime*

 

“Wah kau betul-betul datang!!” Donghae kegirangan, melayang-layang di atas kepalaku saat aku kembali datang ke atas atap.

 

Aku mencoba mencubit tanganku. Berharap dua hariku ini hanyalah sebuah mimpi. Sial, ternyata ini bukan mimpi. Sekarang dia berhenti melayang-layang. Menapakan kakinya pada lantai atap.

 

“Hei Yoona-ya! Aku mau betanya hal tentang kamu.”

 

“Tentang aku?!”

 

 

“Kenapa kau sering ke sini sendirian? Aku selalu penasaran padamu, selalu bertanya-tanya seperti apakah dirimu?” jelasnya. Ternyata dia selalu mengawasiku.

 

“Umm, aku tak bisa bergaul dengan namja.” ujarku agak malu, “Jika aku ingin sendirian, aku pergi ke sini. Tempat yang tak ada namjanya.”

 

“Tapi, kenapa kau bisa mengobrol denganku? Aku kan namja”

 

“Iya? kenapa ya? Ah, mungkin karena kau tak nyata. Aku tenang karena tak bisa kau sentuh.”

 

“Hmm, perasaan yang rumit ya? Ya sudah, yang penting aku bisa berkenalan denganmu dengan badanku ini..” dia menjulurkan tangannya ke arahku.

 

“Eh, tanganmu kenapa?” tanyaku

 

“Salaman dong! Kita kan sudah kenalan. Hehe” ajakan donghae untuk salaman membuatku shock. “nggak takut kan? Aku kan tak bisa menyentuhmu.”

 

“Nde, T…tapi aku tetap takut.”

 

“Tenang, sama saja bersalaman dengan angin” ucapannya mencoba menenangkanku. Seperti angin? Seperti apa itu? Baiklah, akan aku coba. Ku coba raih tangan Donghae yang terjulur. Tangannya terasa kosong dan dingin, bagai hembusan angin. Dan untuk pertamakalinya aku bersentuhan tangan dengan seorang namja, meskipun tak nyata.

 

Siang itu, aku menghabiskan waktu bersama Donghae. Menceritakan segala yang tak bisa ku ceritakan kepada orang lain. Tentang kebencianku kepada guru sastra, ketertarikanku pada musik jazz, ketidaksukaanku pada kimchi, hingga ketakutanku pada…

 

“Kau takut pada tomat? tomat?? Bwahahahaha” Donghae tertawa dengan puasnya.

 

“heh, jangan tertawa! Aku punya alasan untuk takut.” bentakku.

 

Kriiiiiiingg.. Bell masuk tiba-tiba berdering, dan aku harus kembali ke kelas.

 

“Donghae, aku harus kembali.” kataku pada Donghae yang sedang mencoba berhenti tertawa.

 

“Baiklah, tapi besok kau harus kembali utuk menceritakan kenapa kau bisa takut tomat. Bwahahahaaha” Donghae kembali tertawa terbahak-bahak.

 

“huh” aku berdiri dan meninggalkan Donghae yang asyik tertawa.

 

 

@class

 

“Yoona-ya, Kau ingin tahu tentang hantu yang ada di atap?” ucap Taeyeon menghampiri bangkuku bersama Hyoyeon.

 

“Iya aku penasaran,” Jawabku terus terang. Aku kan tak tahu apa-apa tentang Donghae. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa menjadi hantu?

 

“Dulu..,” Taeyeon memulai ceritanya. “ada murid yang terjun bunuh diri dari atas atap karena gagal ujian. Dia tak sadar kalo sudah meninggal. Rohnya tetap saja mondar-mandir, belajar di atap. Dia masih sibuk menghitung soal matematika yang tidak bisa ia kerjakan semasa hidupnya. Gitu.”

 

“Dia tak tahu kalau dia sudah mati bunuh diri. Haha. Culun banget kan dia?” timpal Hyoyeon. Sosoknya, beda banget sama Donghae.

 

“Habis dia stres karena gagal ujian. Begitulah ceritanya. Entah fakta atau sekedar rumor” ucap Taeyeon mengakhiri ceritanya.

 

“Tapi, kayaknya memang benar ada yang bunuh diri dari atap.” imbuh Hyoyeon.

 

“Gomawoyo sudah cerita” kataku saat Taeyeon dan Hyoyeon akan kembali ke bangkunya.

 

“Nde, Cheonmaneyo..” balas mereka.

 

 

^^^^My Boyfriend is A Ghost ^^^^

-4th days-

 @breaktime

 

“Donghae aku kembali!” aku jalan di atas atap menghampiri sosok transparan di hadapanku.

 

“Asyikk! Ayo cerita kenapa kamu takut tomat!” Kalimat yang keluar dari bibirnya saat aku menemuinya.

 

“Mwo? Kamu itu.” jawabku kesal.

 

“Ayolah, ceritakan singkat saja!” ucapnya sembari duduk bersiap mendengarkan ceritaku.

 

“Huh, baiklah” keluhku ikut duduk dihadapannya. “Dulu, saat aku pertama kali masuk Sekolah Dasar aku bermimpi sebuah tomat raksasa yang mencoba memakanku, dan mimpi itu berulang selama lima hari berturut-turut. Sejak saat itu, aku tak berani menyentuh, bahkan melihat tomat saja aku takut. Ah sudahlah, itu bukan hal yang penting.”

 

“Hmm jadi begitu.” ucap Donghae memahami apa yang aku katakan. “heh, ayo ceritakan sesuatu tentang namja-namja sekelasmu. Seperti apa mereka?”

 

“Wae?”

 

“Aku hanya berpikir, kau tak mungkin selamanya menjauhi namja. Tunggu dulu, kau masih suka namja kan?”

 

“hah, pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku…..” Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Tentu saja aku suka namja, tapi siapa? Berinteraksi saja susah.

 

“hmm?” rupanya Donghae sedang menunggu jawabanku.

 

“Aku… Jika semua namja sepertimu, mungkin aku bisa suka pada salah satu dari mereka.” jawabku tegas.

 

“Hahaahha” Donghae tertawa menunjukan gigi-gigi rapinya. “Maksudmu, kau berharap semua namja itu hantu?”

 

“Ya, bukan seperti itu juga. Kau mau tahu bagaimana namja-namja di kelasku? Mereka itu aneh. Lebih aneh darimu.”

 

“Aneh?”

 

“Iya, Ada Choi Siwon yang suka buka baju setiap jam istirahat. Hyukjae yang sering sekali membawa majalah-majalah dewasa. Huh, mengerikan. Ada Kim Kibum, dia selalu diam, tapi aku tahu dalam diamnya itu tersimpan sesuatu hal yang buruk. Ada….”

 

“hahaha, cukup-cukup,” Donghae menyela ucapanku. “Tidak masalah mereka seperti apa. Coba saja berbicara pada salah satu dari mereka.”

 

“Baiklah. Akan aku coba.”

 

 

@class

 

Kelas terliahat gaduh sekali karena jam kosong. Aku mulai memikirkan kata-kata Donghae yang tadi. Benar juga, aku harus bisa berinteraksi pada salah satu dari mereka. Ku putar pandanganku ke sekeliling kelas. Siapa yang harus aku ajak bicara dari sekian banyak namja. Saat ku menoleh ke belakang, ku lihat namja cantik sedang berdandan. Kim Heechul. Aku harus memulai percakapan dengan dirinya. Dari bangkuku, ku melangkahkan kaki ke ujung ruang kelas menuju bangku Heechul. Ku duduki bangku kosong yang berada tepat di depan Heechul dan kubalik posisi dudukku sehingga aku dan Heechul berhadapan.

 

“Umm, Heechul-ssi.” aku coba memanggilnya. Dia menghentikan kegiatannya itu, seraya menatapku agak kaget. Tiba-tiba dia berdiri yang sontak membuatku tak kalah kagetnya.

 

“Chingudeul!!” Heechul berbicara dengan keras, agar mendapat perhatian teman-teman yang ada di kelas. “Lihatlah! Yoona akan mengajakku bicara! Jadi diam dan perhatikan baik-baik, ini akan menjadi sejarah yang luar biasa” Semua teman-teman di kelas tertawa dan bersorak dengan riuh. Sebegitu senangnya kah mereka? Aku hanya ingin berbicara dengan Kim Heechul. Apa itu kejadian langka? Memang sih, tapi tak seharusnya Kim Heechul berbuat seperti ini.

 

“Husssttt” Heechul menyuruh teman-teman untuk diam. Mereka pun diam seketika. Heechul pun kembali menatapku, “Oke Yoona, kamu mau bicara apa?”

 

“Ani” jawabku singkat. Tidak pikir panjang aku langsung berdiri dan berjalan kembali ke bangkuku.

 

“Huuuuu!!” Teman-teman sekarang berbalik mengolok-olok Heechul. Beberapa diantara mereka bahkan melemparinya dengan kertas. Sepertinya berinteraksi dengan Heechul bukan ide yang bagus.

 

 

^^^^My Boyfriend is A Ghost ^^^^

-4th days-

@class

 

Tak terasa musim dingin telah tiba. Kanan kiri jalanan menuju sekolah terlihat putih tertutup salju tipis. Seperti biasa aku berangkat lebih awal dari yang lain. Aku lebih mempercepat langkahku agar cepat tiba di dalam kelas. Di luar sini sangat dingin. Setiba di kelas yang masih sepi, aku langsung duduk dibangkuku.

 

“Mianhaeyo” Tiba-tiba Heechul sudah ada di sebelahku.

 

“Wae?” Tanyaku singkat.

 

“Yang kemarin itu. Apa yang ingin kau bicarakan denganku.”

 

“Oh, ani. Tidak ada.”

 

“Kau jangan bohong!”

 

“Ah,” sejenak aku berpikir, kemarin aku tidak mempersiapkan topik percakapan. Aku terlalu terburu-buru mengajaknya bicara. Aduh, apa yang harus aku katakan? “Umm.. Bisakah kau mengajariku  pelajaran sains. Aku menemui sedikit kesulitan” ucapaku mengarang.

 

“Oh, itu. Baiklah, bagian mana yang susah?”

 

Pagi itu aku berhasil berinteraksi dengan Heechul. Tak hanya mengajariku, beberapa kali pembicaraan kami melenceng dari tujuan awal Heechul mengajariku. Kalimat yang terlontar dari mulutnya penuh dengan candaan. Membuatku membuka mulutku lebar-lebar karena tertawa. Beberapa teman-teman yang sudah datang memandang heran. Pandangan mereka menunjukan pandangan ‘kau memang hebat’ kepada Kim Heechul. Hingga bell masuk berbunyi, aku belum bisa berhenti tertawa. Sesekali aku terkikik geli teringat akan gurauan Heechul tadi, sampai-sampai Gong Sonsaengnim menegurku. Ternyata, namja tak seburuk yang aku bayangkan. Aku harus cepat-cepat menceritakan kejadian ini pada Donghae.

 

 

@breaktime

 

“Yoona-ya” sapa Donghae saat melihatku. Dia melayang-layang seperti biasa.

 

“Donghae!” sapaku girang. “Kau tahu apa? Aku berhasil berbincang-bincang dengan namja! Aku bisa ngobrol dengan Heechul”

 

“Wah hebat! Baru kemarin aku memberikan saran. Kau sangat tanggap Yoona.” kata Donghae memujiku.

 

“Mungkin karena parasnya yang seperti yeoja, jadi aku tak merasa takut. Tapi, aku belum berani bersentuhan dengan namja.”

 

“Gwaenchana. Ngobrol saja sudah cukup memuaskan.” ucap Donghae meyakinkan. Aku senang memiliki teman sepertinya. Donghae adalah teman yang bisa diajak berbagi. Tapi, dia tak pernah membagi kisahnya kepadaku. Apa aku harus bertanya terlebih dahulu.

 

“Donghae-ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

 

“Nde?” kata Donghae

 

“Mianhae sebelumnya. Umm, kenapa kau bisa jadi hantu?” ku coba ungkapkan rasa penasaranku. “Enggak apa-apa kalau tak mau cerita.” tambahku cepat-cepat, saat melihatnya seperti susah untuk menceritakan.

 

“Nde gwaenchana. Sebenarnya aku pun tak tahu kenapa aku bisa jadi hantu seperti ini. Tapi, pada waktu itu aku merasa sangat ingin bicara dengan yeoja  yang berada di atap sekolah. Berulang kali aku berpikir begitu. Dan tahu-tahu sosokku sudah begini.”

 

“Lalu, apakah kamu tahu sampai kapan kamu akan di sini?”

 

“Yah, karena aku sudah ngobrol denganmu, kurasa sebentar lagi aku akan menghilang.”

 

“Mwo? Wae?!”

 

“Hehe, Yoona-ya. Meskipun aku menghilang. Jangan lupakan aku ya.” Kenapa dia berkata seperti itu.

 

“Ma..mana mungkin aku lupa! Sudah ketemu hantu. Iya kan.” benar-benar bahagia berteman dengannya, sehingga tak akan mungkin kulupakan. “Anginnya kencang. Donghae, kau tidak kedinginan pakai baju tipis?”

 

“Nde, aku kan hantu. hahaha”

 

Benar juga. Bahkan dia tak menghirup oksigen. Pasti rasanya sangat hampa.

 

“Donghae-ya.” panggilku

 

“Hmm?”

 

“Mau bergandengan tangan??” aku tahu, bergandengan tangan dengan Donghae tidak akan menghangatkan tanganku.Tapi saat aku membayangkan dia akan pergi, aku benar-benar ingin menggandengnya.

 

“Mwo? Kok mendadak minta gandengan? Kau tak berani kan?”

 

“Seperti menyentuh angin saja kan?”

 

“Iya sih.” akhirnya Donghae setuju. Donghae mulai menjulurkan tangan transparannya. Aku juga melakukan hal yang sama, mencoba meraih tangan Donghae. Tangan yang rasanya seperti kumpulan angin yang berhembus ini aku sentuh untuk yang kedua kalinya. Dan rasanya lebih dingin dari sentuhan sebelumnya.

 

 

@teachers’s room

 

Hari itu juga aku putuskan untuk pergi ke ruang guru. Aku akan bertanya tentang murid yang meninggal, tentang Donghae. Kulihat Soman Sonsaengnim sedang ada di ruangan. Langsung saja ku hampiri dia. “Sillyehamnida Soman sonsaengnim.” Soman sonsaengmin menghentikan pekerjaannya seketika. “Kau rupanya Yoona, ada apa?” tanya Soman sonsaengmin setelah berbalik menghadapku.

 

“Mianhamnida sebelumnya, apakah sonsaengmin tau murid yang dulu meninggal di atap?” tanyaku tanpa basa-basi.

 

“Murid yang dulu meninggal di atap? Ah nde, bapak tahu sedikit. Tapi dia tidak meninggal karena terjun dari atap, dia meninggal karena sakit.” Jadi, Donghae meninggal di atap karena sakit? “Tapi, sepertinya arwahnya masih penasaran. Yeoja yang malang.” ucap Soman sonsaengmin. Kata-katanya itu membuatku terkejut.

 

“YEOJA?!” aku meneriaki Soman sonsaengmin yang terlihat lebih terkejut.

 

“I..iya memang yeoja, cuma dia saja yang meninggal sebelum lulus.” tegas Soman sonsaengnim. Jadi, ada gosip tentang bunuh diri di atap ternyata yeoja, bukan namja?! Hmm.. Semakin rumit rupanya.

 

Kemudian aku putuskan untuk berjalan menuju perpustakaan. Dimana album alumni ada di sana. Ku ambil beberapa album alumni yang berjajar rapi di rak. Kubuka satu-satu, mencari nama Donghae. Lee Dong Hae. Setelah membolak-balik album dari tahun ke tahun, aku menyerah. Sepertinya dia bukan murid sekolah ini. Tapi, kenapa dia ada di atap sekolah? Donghae, sebetulnya siapa kau?

 

 

^^^^My Boyfriend is A Ghost ^^^^

-5th days-

*breaktime*

 

Salju masih menyelimuti tipis atap sekolah saat aku kembali ke atap ini.

 

“Donghae.. Kenapa kau jadi semakin tipis??” tanyaku heran saat melihat tubuhnya yang sangat transparan. Lebih transparan dari sebelumnya.

 

“Mwo?” Donghae melihat tangannya sendiri. Memastikan ucapanku adalah benar. “Mungkin sudah saatnya Yoona-ya” ucapnya kemudian.

 

“Saatnya?”

 

“Nde, mungkin sudah saatnya aku harus pergi.”

 

“Andwe!” kenapa harus pergi? “Kau muncul begitu saja. Lalu meninggalkan orang dengan perasaan kacau!” kemarahanku meluap. Aku tak bisa terima kepergiannya.

 

“Yoona-ya, kau mau dengar permohonanku??” kata Donghae dengan raut memohon. “Ayo kita cepat ke pintu masuk! Palli!” perintahnya. Melayang dia mendekati pintu kaca. Aku pun mengikutinya dengan langkah-langkah kecilku.

 

“Sekarang kau masuk ke dalam.” Aku tak tahu apa yang akan Donghae lakukan, namun aku tetap menurutinya.

 

“Nde.”, ku masuki pintu kaca itu. Sekarang aku ada di dalam, dan dia diluar. Aku bisa melihatnya lewat pintu kaca.

 

“Ulurkan tanganmu, letakan di kaca” Perintah Donghae dari luar.

 

“Nde” lagi-lagi aku menurutinya. Kusentuhkan telapak tanganku ke kaca. Donghae mendekatkan diri ,dan meletakkan tangannya ke kaca juga.

 

“Rasanya kita bersentuhan bukan?” tangan kami seperti bersentuhan, meskipun terhalangi kaca. Tapi Donghae, taukah kau, kaca terasa begitu dingin. Air mataku tak terbendung, perlahan-lahan air mata ini menetes membasahi pipiku.

 

“Yoona-ya, ini permohonanku yang terakhir. Kumohon jangan menangis!” permohonan terakhirnya, tak bisa ku kabulkan. Tidak Donghae, aku tak bisa berhenti menangis. Bagaimana mungkin aku tak menangis. Sosok Donghae di balik pintu tak terlihat. Pasti karena kacanya berkabut. Dengan segera aku keluar dari dalam ruangan

 

“DONGHAE!!!” teriakku kencang. Tak ada. Dia telah menghilang. “DONGHAE!!” aku mencoba kembali berteriak. “DONGHAE KEMBALILAH!” aku berlari dari sudut-kesudut atap. Tapi tak nampak ada Donghae dimanapun. Di depan mataku ini hanya ada salju, yang turun dari langit. Hujan salju lebat mengiringinya pergi. Aku terpuruk di timbunan salju di atas atap. “Donghae ku mohon, kembalilah” kataku lirih. Butiran bening dari mataku terus mengalir. Aku tetap diam di atap sekolah ini. Menangis. Hanya menangis. Merasakan sesaknya dada karena kepergiannya. Meskipun membeku kedinginan, aku tidak beranjak dari sana. Tempat yang penuh kenangan.

 

 

^^^^My Boyfriend is A Ghost ^^^^

-12th days-

 

Seminggu lamanya aku tak masuk sekolah karena flu berat. Hari ini, aku kembali ke sekolah. Tempat yang aku tuju untuk pertama kali adalah, atap sekolah. Sudah lama rasanya tidak sendirian di atap. Dulu, tak kusadari, aku menjadi bahan pantauan seorang namja. Donghae. Kenangan itu kembali terbuka. Tapi, dimana dia memantauku semasa hidupnya? Dari mana dia melihatku? Saat itu juga penasaranku muncul. Aku melihat sekeliling, banyak sekali bangunan. Apakah Donghae melihatku dari salah satu bangunan itu? Pandanganku tertuju pada sebuah bangunan Rumah Sakit, karena ada sesorang di atap rumah sakit itu. Apakah itu Donghae? Hanya ada satu cara untuk memastikannya, aku harus ke sana.

 

Aku berlari sekuat tenaga menuruni tangga, menyusuri koridor-koridor sekolah yang masih sepi, aku buka pintu utama sekolah dan terus berlari menuju gerbang. Meski lelah aku tak berhenti, ku telusuri jalan aspal depan sekolah masih dengan berlari. Jalan raya. Akhirnya ku lihat jalan raya yang memisahkan sekolahku dan rumah sakit itu. Ku sebrangi jalan raya itu saat mobil-mobil berhenti karena lampu merah. Sesekali aku mengambil nafas dalam-dalam. Ku terhenti sejenak saat sampai tepat dipintu rumah sakit. Aku pegang pintu itu sembari memohon. Kumohon, orang yang di atas itu benar-benar Donghae. Ku dorong pintu itu dan ku kembali berlari menuju tangga. Kulihat banyak mata memperhatikanku heran. Namun aku tak peduli. Hingga akhirnya aku sampai di depan anak-anak tangga yang berjajar. Ku naiki tangga itu dengan cepat, seakan tak takut kehabisan nafas. Berlantai-lantai rumah sakit ku lewati. Saat ku telah sampai pada pijakan yang terakhir, ku berhenti berlari. Nafasku masih tak beraturan. Ku coba untuk mengontrol nafas. Sekarang, aku berada di lorong yang menghubungkan tangga dengan pintu atap. Ku susuri lorong itu pelan-pelan. Jantungku berdebar begitu cepatnya. Pintu itu sudah berada tepat di depanku. Ku coba membukanya. Hanya satu harapanku. Orang itu..

 

“DONGHAE!!” teriaku setelah sampai di atap rumah sakit. Namja itu berbalik ke arahku terlihat kaget.

 

“Hei! Jangan berteriak seperti itu. Kau membuatku kaget tahu!” ucap namja itu. Dia… Bukan Donghae.

 

“Ah, Mianhamnida!” ucapku menyesal sembari membungkuk dalam-dalam menunjukan rasa penyesalanku.

 

“Dasar yeoja gila!” kata namja itu saat berjalan melewatiku dan pergi masuk ke dalam meninggalkanku begitu saja. Ah, bodohnya aku. Bisa-bisanya aku mengira orang itu Donghae.

 

“Hahahaha” aku menertawai diriku sendiri. Merasa bodoh akan apa yang aku lakukan. Donghae sudah pergi, tak mungkin dia kembali. Aku tak seharusnya mengharapkan dia kembali. Rasanya aku menjadi gila. Ku putuskan untuk kembali ke sekolah, pasti bell masuk telah berdering dari tadi. Ku putar badanku ke arah perginya namja tadi. Saat aku ingin melangkahkan kakiku, aku merasa terkejut.

 

“Yoona-ya!” di depan pintu sudah berdiri seorang namja yang rupanya seorang pasien rumah sakit, karena terlihat dari pakaian yang ia kenakan. Aku mengenali wajahnya.

 

“Donghae?!” ku balas panggilan namja itu. Rasanya ingin menangis sekarang. “Benarkah itu kau?” tanyaku padanya.

 

“Nde, aku Donghae, Lee Donghae.” ucapnya. Tanpa pikir panjang ku berjalan ke arahnya. Ku pukul lirih lengan Donghae.

 

“JANGAN MENGHILANG SEENAKNYA PABO!!!” teriakku. Aku tak marah padanya. Kuungkapkan rasa bahagiaku dengan meneriakinya. Aku berusaha menahan air mata yang sepertinya akan keluar. Orang yang menghilang, sekarang telah kembali. Berdiri di hadapanku.

 

“Eh?! Tunggu dulu!” Kata Donghae dengan wajah bingung.

 

“Wae?” tanyaku tak kalah bingung.

 

“Semuanya,, bukan mimpi ya?”

 

“Mwo?” aku tak tahu apa yang dimaksudkan Donghae.

 

“Aku, sudah lama dirawat di sini karena kecelakaan. Lalu aku menjalani operasi dan berhasil. Tapi, setelah itu, aku koma selama seminggu. Di saat itulah, aku ingin ketemu kamu Yoona.” jelasnya.

 

“Maksudmu, rohmu keluyuran?” tanyaku heran.

 

“Mungkin. Hahaha.” Donghae tertawa girang. Tapi aku tak peduli, walaupun begitu banyak kenangan hingga logikaku tak bisa jalan normal, aku tak peduli.

 

“Ku kira, aku tak bisa bertemu kamu lagi.” lanjutku.

 

“Mianhaeyo. Meskipun semua ini hanya mimpi, kalau aku sudah keluar dari rumah sakit ini, aku pasti akan mencarimu Yoona-ya.” ucapnya meyakinkan. “Nah, bolehkah aku menyentuhmu tanpa kaca?” tanyanya.

 

“Aku kan sudah memukulmu tadi, tentu saja kau boleh menyentuhku.” untuk permintaan itu, aku tak perlu berpikir panjang lagi. Donghae menjulurkan tangannya ke arahku. Ku raih tangan Donghae tanpa ragu. Tangan kami saling menggenggam. Tangan yang kusentuh untuk yang keempat kalinya, terasa nyata dan hangat. Tiba-tiba Donghae menarik tangannya yang sontak membuat kami berpelukan. Untuk inipun aku tak bisa mengelak. Rasanya sangat hangat.

 

“Yoona-ya” kata Donghae belum melepaskan pelukannya.

 

“Nde?” responku.

 

“Maukah kau menjadi yeojachingu-ku?” ucap Donghae.

 

“Nde” ucapku bahagia. Aku tahu, menjadi yeoja chingu dari seorang Donghae, adalah pilihan yang sangat tepat. “Saranghae”

 

“Nado saranghae”

 

_____THE END_______

 

 

 

Gaje? maklum ini FF Ke-2 ku. mungkin masih banyak kekurangan. Jadi comment sangat dibutuhkan….^^